“Saya seorang lesbian. Apa salahnya jadi seorang lesbian? Ini hal yang normal. Masyarakat mungkin menilai ini kelainan atau melanggar norma-norma agama. Terserah saja. Saya tak terganggu dengan berbagai penilaian itu. Buktinya saya tetap bisa hidup bersama dengan pasangan saya selama lebih dari 10 tahun” ( Koran Tempo , 15/08/04).
Penggalan curhat di atas adalah kebanggaan dari salah seorang pasangan lesbi yang sudah hidup serumah bin seranjang di kawasan Ciledug-Tangerang. Selain testimoni ini, MMS perilaku sepasang lesbian berseragam SMU sempat menggegerkan kota Kembang. Sama gegernya dengan informasi hasil penelitian dan penelusuran Yayasan Priangan Jawa Barat yang menunjukkan tingginya kasus homoseksual di kalangan pelajar di Bandung, 21% siswa SLTP dan 35 % siswa SMU disinyalir telah melakukan perbuatan homoseksual. ( Swaramuslim.net , 19/12/03). Waduh!
Rupanya di negeri kita, geliat kehidupan kaum homoseks tidak lagi underground . Beberapa diskotek di kota-kota besar di Indonesia pun, tanpa risih bikin acara khusus gay dan lesbian setiap minggunya. Seperti di Moon Light Dischotheque Jakarta; Q Bar dan Kudos Bar Bali; atau Studio East di Kota Pahlawan. Acaranya begitu variatif. Fashion Show, Cowok Berbadan Atletis, Pemilihan Cowok-Cewek Trendi, Pemilihan Cowok Gerondong, atau acara tahunan Miss Universe Waria. ( KoranTempo , 15/08/04)
Organisasi yang mewadahi mereka pun kian menjamur. Di awali Lamda Indonesia pada tahun 1982, kini bagi kaum gay, ada Ikatan Persaudaraan Orang-orang Sehati (IPOS) di Jakarta; Gaya Dewata di Bali; Komunitas Pelangi di Yogya; Gaya Priangan di Bandung; atau Gaya Nusantara di Surabaya. Kaum lesbiannya banyak yang gabung di Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Swara Srikandi, Jaringan Kerja Warna-Warni, atau Persatuan Lesbian Indonesia. Semua institusi di atas mengadakan advokasi, seminar, pendidikan tentang hak-hak politik dan sosial, kampanye anti narkoba dan bahaya HIV, pemberian beasiswa, hingga kegiatan pengajian. ( KoranTempo , 15/08/04)
Di luar negeri, kaum homoseks kerap kali berparade bin karnaval untuk mendapatkan pengakuan atas eksistensi mereka. Di Berlin, sebuah kota dengan komunitas gay terbesar di Eropa, ada perayaan Christopher Street Day alias hari kaum gay. Di Amsterdam-Belanda, yang dijuluki Gay Capital of The World (Ibukota Dunia Gay), terdapat Gay Pride Amsterdam . Dan baru-baru ini ada Festival Nations’04, yang merupakan festival kaum homoseks dari tanggal 7-9 Agustus 2004 di Singaparna eh, Singapura. Heboh pisan euy!
Sobat muda muslim, nampaknya aksi coming out kaum homoseks semakin ‘memaksa’ masyarakat untuk menganggap wajar kehadiran mereka. Tapi sebagai seorang muslim, mungkinkah kita menganggap wajar suatu perbuatan yang nggak wajar di hadapan Allah? Ada baiknya kita baca dulu buletin ini biar sikap kita terhadap pertanyaan itu bisa dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Tafadhol!
Mengenal lebih dekat homoseksual
Secara naluriah manusia punya ketertarikan seksual terhadap lawan jenisnya yang dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah heteroseks. Cowok kesengsem ama cewek pujaan hatinya. Gitu juga sebaliknya. Tapi ternyata, ada orang yang justru (lebih) tertarik pada orang-orang sejenis. Cowok tertarik pada sesama kaum Adam yang disebut gay. Dan cewek tertarik pada sesama kaum Hawa yang disebut lesbian. Gay dan lesbian inilah yang kemudian dikelompokkan dalam kaum homoseks. Malahan ada juga tipe orang yang ketertarikan seksualnya AC-DC alias biseksual. Ama lawan jenis oke, dengan sesama jenis juga nggak masalah. Kemaruk banget ya?
Dalam sejarahnya, aktivitas homoseksual sudah ada sejak zaman prasejarah. Tepatnya di kota Sodom dan Gomorah pada 3000 SM. Allah begitu sayang kepada para penduduk kota ini hingga mengutus Nabi Luth as untuk mengajak mereka yang berperilaku homoseks agar kembali ke jalan yang benar. Tapi apa daya, mereka begitu keukeuh sureukeuh istiqomah dalam kebejatan moralnya. Sehingga Allah menurunkan azab dengan membalikkan negerinya dan menghujaninya dengan batu dari tanah yang terbakar seperti diceritakan dalam QS. Huud [11]: 82.
Adapun penyebab orang bisa jadi homoseks, kita juga nggak bisa mastiin (belon berpengalaman sih, hihihi). Para ahli psikolog atau kedokteran juga keteteran menjelaskan penyebab orang jadi homoseks. Kalo menurut dr. Wimpie Pangkahila, ada empat kemungkinan penyebab homoseksual. Pertama , faktor biologis, yakni ada kelainan di otak atau genetik. Kedua , faktor psikodinamik, yaitu adanya gangguan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak (seperti kasus sodomi pada anak di bawah umur). Ketiga, faktor sosiokultural, yakni adat-istiadat yang memberlakukan hubungan homoseks dengan alasan tertentu yang tidak benar (seperti tradisi warok yang memelihara gemblak di Ponorogo). Keempat, faktor lingkungan, yaitu keadaan lingkungan yang memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis menjadi erat.
Namun sobat, dari penjelasan dr. Wimpie, nampaknya tiga faktor yang bersifat eksternal selain biologis atau genetik paling masuk akal mampu menyeret seseorang menjadi homoseks. Karena perilaku seseorang tentu mencerminkan informasi yang dia serap tentang perbuatan itu dari lingkungan sekitarnya. Bukan semata-mata karena faktor biologis. Faktor biologis hanyalah pendorong orang untuk berbuat. Tapi bukan yang menentukan jenis perbuatan yang harus dilakukan.
Prof. Dr. Dadang Hawari, guru besar FKUI berkomentar, “Sampai sekarang belum ada yang menyatakan karena faktor genetis, yang sudah jelas adalah faktor lingkungan.” (O. Solihin, Jangan Jadi Bebek, 2002 ).
Virus kebebasan masyarakat Barat
Sobat muda muslim, berkembangnya kehidupan homoseks hanya terjadi di negeri-negeri yang aturan hidupnya steril dari syariat Islam. Ini disebabkan mereka menjadikan kebebasan individu di bawah lindungan demokrasi sebagai panglima tertinggi yang wajib dihormati. Catet tuh!
Menurut Syaikh Abdul Qadim Zalum, dalam bukunya, Ad-Dîmukrathiyyah Nizhâm Kufr , paling tidak ada 4 (empat) kebebasan yang dijamin dalam demokrasi: (1) kebebasan beragama; (2) kebebasan berpendapat; (3) kebebasan berekspresi/berprilaku; (4) kebebasan kepemilikan.
Hawa kebebasan individu yang ditawarkan demokrasi mengizinkan mereka mengibarkan bendera Pelangi sebagai simbol komunitas kaum homoseks. Ibarat oase di tengah panasnya padang pasir, kebebasan itu juga memancarkan sebuah asa bagi mereka untuk membuka diri tanpa takut mengalami diskriminasi. Sehingga perkawinan sejenis (gay) yang disyahkan pengadilan Tinggi Massachusset-AS Februari silam kudu diterima sebagai sebuah konsekwensi dari kebebasan individu. Meski Bush Jr bilang nggak setuju, tapi Hakim Pengadilan Tinggi negara bagian yang besangkutan mengatakan bahwa perkawinan sesama jenis dilindungi oleh Konstitusi Amerika Serikat. ( Suara Merdeka , 05/02/04). Hayo lho?
Dan jika paham permisif ini dibiarkan, boleh jadi kita akan memanen kebejatan moral masyarakat di masa yang akan datang. Penularan HIV/AIDS atau mewabahnya Penyakit Menular Seksual semakin meningkat. Haruskah azab yang Allah timpakan pada kaum Nabi Luth terulang di negeri kita? Naudzubillahi min dzalik
Rahasia Islam tangani homoseksual
Merajalelanya kaum homoseks memang nggak ada dalam sejarah peradaban Islam. Bahkan nggak akan pernah ditemui selama syariat Islam diterapkan oleh negara. Bukan itu saja, penerapan aturan Islam juga akan menjadikan pola hidup di tengah masyarakat mulia, aman, dan terkendali. Pengen tahu rahasianya?
Pertama , aturan Islam akan menindak tegas dengan pemberlakuan hukuman sampai mati bagi pelaku homoseksual. Baik yang gay maupun lesbian. Rasullah saw bersabda: “Barangsiapa menjumpai orang yang berbuat homoseks seperti praktek kaum Luth, maka bunuhlah si pelaku dan yang diperlakukan (pasangannya)” (HR Bukhari, Muslim, at-Turmudzi, Abu Daud, dan an-Nasa’i )
Para ulama dan shahabat berbeda pendapat dalam penggunaan jenis hukuman mati bagi pelaku homoseks itu. Sahabat Ali ra memilih merajam dan membakar pelaku. Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan berpendapat, pelaku dibenturkan ke tembok sampai mati. Sedangkan menurut Ibnu Abbas, pelaku harus dilempar dari gedung yang tinggi dalam keadaan terjungkir dan dihujani dengan batu. Biar beda pendapat, tapi tetep ending -nya satu: Mati!
Tapi perlu kamu catet, hukuman di atas bukan tindakan sewenang-wenang. Tapi merupakan aturan Allah yang akan menebus dosa pelakunya di akhirat sekaligus mencegah orang berbuat serupa.
Kedua , Islam punya rambu-rambu pergaulan yang akan menyelamatkan kita dari perilaku kaum nabi Luth.
a. Penampilan luar cowok kudu beda dengan cewek. Gitu juga sebaliknya. Seorang muslimah nggak pantes menyandang gelar cewek tomboy. Sama nggak pantasnya dengan julukan banci, waria, wadam, atau bences bagi seorang muslim. “Rasulullah saw melaknat kaum pria yang menyerupai (penampilan) wanita, dan kaum wanita yang menyerupai penampilan para pria.” (HR Bukhari)
b. Mata nggak jelalatan melihat aurat sesama jenis maupun lawan jenis. Mentang-mentang sejenis, bukan berarti boleh mandi bareng atau pamer aurat (pake celana di atas lutut atau malah bergaya tarzan) di depan gank-nya. “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lainnya, jangan pula seorang wanita melihat aurat wanita lainnya.” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi)
c. Nggak tidur satu selimut dengan temen sejenis apalagi lawan jenis. Bisa-bisa ring WCW pindah ke kasur. Aturan ini juga berlaku buat anggota keluarga yang sudah baligh lho. ”Janganlah seorang laki-laki tidur satu selimut dengan sesama laki-laki, jangan pula wanita tidur satu selimut dengan wanita lainnya.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi)
Nah sobat, fenomena kaum homoseks ini bukan untuk dibaca atau sekadar tambahan informasi saja. Sebagai seorang muslim, ada tuntutan bagi kita untuk ambil peduli. Mengingatkan teman-teman kita yang perilakunya menyimpang bukanlah hal yang hina atau tidak setia kawan. Justru itulah wujud rasa sayang kita sebagai seorang sahabat. Masa’ sih kita membiarkan teman kita yang tengah berjalan menuju jurang yang dalam bin terjal. Tega bener. Kalo kita masih cuek, inga-inga , Allah nggak lupa akan kecuekan kita itu di yaumul hisab kelak.
Makanya mari kita niatkan bersama-sama untuk ikut terlibat dalam aktivitas dakwah. Songsong niat mulia itu dengan menghadiri kajian Islam secara rutin. Biar benteng akidah kita terjaga sekaligus kita punya modal tsaqofah untuk dibagi-bagikan ke orang lain saat berdakwah. Dan nggak ketinggalan, kita juga sampaikan koreksi terhadap pemerintah negeri ini yang lagi asyik bermesraan dengan demokrasi. Agar mereka meninggalkan aturan sekuler yang menuhankan hawa nafsu dengan segala kebobrokannya dan beralih kepada Syariat Islam yang agung dan mulia, untuk diterapkan sebagai ideologi negara. Tunggu apa lagi?


saya seorang gay, dan saya menyadari ini dari kecil. kehidupan saya ketika masih kecil cukup bahagia dan tidak ada kelainan di lingkungan. bagi saya, saya memang ditakdirkan untuk menjadi gay dan saya sangat bangga.
bukalah mata kalian. koreksi diri sendiri dahulu, jangan asal menjudge orang.
NB:
Tidak ada orang yang ingin menjadi tidak normal, tetapi keadaan yg tidak memungkinkan.
Saya seorang gay tapi menolak apabila gay dijadikan gaya hidup. Saya menjadi gay bukan karena saya ingin, tapi semua hanya karena masa kecil. Apa salah saya menjadi seperti ini? Saya tdk mau disalahkan! Tahu apa saya tentang gay waktu saya blm baligh? Tentu tak tahu apa2. Akan tetapi kejadian waktu kecil itu perlahan2 mengikuti pola pikir saya. Ada apa dengan saya? Saya tdk tahu. Saya hanya menjadikan ini sebagai cobaan dari Allah.
Wek..Gila luh
Saya seorang gay dan menjalani hidup secara tertutup, sebenarnya saya benci dan muak ketika mengetahui jati diri saya seperti ini, penuh kepalsuan, harus berpura-pura ‘being normal’ waktu semester 3 saya pernah berkonsultasi dengan sebuah lsm gay di kota saya (Surabaya), berharap ada jalan keluar atas apa yang saya alami. Mungkin saya terlalu berharap banyak dengan lsm ini yang saya anggap bisa memecahkan problema dan menjadi malaikat penolong, tapi apa lacur, orang lsm itu malah menawarkan (tepatnya mengajak) saya kencan ketika pada akhirnya saya berkonsultasi dan datang ke kantor tersebut. Saya kecewa dan marah tapi tak dapat bebuat apa-apa, selama ini saya pikir hanya orang-orang gay diluaran yang menganggap sex sebagai hal yang biasa, ternyata di lsm ini juga sama, malah lebih parah lagi, ketika saya berada disana, saya seperti hewan ternak yang siap untuk dikorbankan, tatapan tatapan ‘nyalang’ seolah menelanjangi saya, seperti suku purba yang siap memangsa, saya jadi takut dan hingga kini saya hidup dalam ketertutupan. Berkomunikasi hanya melalui dunia maya, sesekali bertemu dengan orang yang saya anggap dipercaya. Di luaran dan dunia maya ini pula saya banyak mendengar pengalaman-pengalaman teman yang pernah diajak kencan ada juga yang dijadikan piala bergilir dan ada juga yang akhirnya menjalani hidup sebagai pelacur laki-laki
Saya menyesalkan apa yang terjadi
Jika saya disuruh memilih saya tak mau hidup sebagai gay, menyakitkan! ada yang bisa membantu saya?
anda sangatlah bergaul di tempat yang salah
anda bisa hubungi saya
nih no hp 08197899176
nanti Insya’ ALLOH saya bantu
wah kok jadi ajang curhat para homonih, yang pastinya yang anda lakukan saat ini adalah penyakit n segera sembuh tuk bertobat
mumpung buln puasa, bulan tuk revolusi diri